PENINGKATAN KEMAMPUAN
ANAK MEMAHAMI DRAMA DAN MENULIS TEKS DRAMA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN SOMATIS
AUDITORI VISUAL INTELEKTUAL (SAVI)
Oleh : Teti Milawati
Pendahuluan : Dalam masa perkembangannya, anak - anak
memiliki banyak sisi diantaranya anak membutuhkan pembelajaran etika, tentang
baik dan buruk bagi mereka. Guru dan orang tua dituntut untuk dapat menetapkan
ukuran - ukuran yang memadai, dan menggali hal - hal khusus tentang budi
pekerti, serta memperkayanya agar selalu lebih menarik dan menyenangkan bagi anak
(Majid, 2002). Pembelajaran drama yang diberikan pada anak
sekolah dasar hendaknya mampu memperkenalkan, membimbing, mengembangkan dan
mengapresiasi drama, membuat mereka dapat menyenangi, menggemari dan menjadikan
drama sebagai salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupan (Waluyo,
2002: 155). Guru hendaknya dapat memilih model pembelajaran yang sekiranya
dapat membantu anak memahami drama dan mampu menulis teks drama walaupun secara
sederhana sehingga dapat mempermudah anak dalam mempelajari dan mengapresiasi drama.
Dengan menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada anak maka diharapkan anak
- anak dapat memahami drama dan mampu menulis teks drama sehingga anak - anak
dapat mengerti manusia lain lebih nyata dan memahami arti kehidupan yang sering
ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu dengan menulis teks drama anak-anak
pun akan terbiasa mencurahkan isi batinnya sehingga mereka pada akhirnya akan
memiliki kepekaan terhadap dirinya dan lingkungannya serta dapat menilai
sesuatu yang baik dan buruk baik itu untuk dirinya maupun untuk orang lain. Rumusan
masalah penelitian; berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: adakah perbedaan peningkatan kemampuan
anak memahami drama dan menulis teks drama antara anak yang pembelajarannya
menggunakan model pembelajaran SAVI dengan anak yang menggunakan pembelajaran
secara konvensional?
Landasan Toeritis :
1. Pengertian drama
Kata drama berasal dari bahasa Yunani “draomai”
yang berarti berbuat, belaku, bertindak, atau bereaksi dan sebagainya (Harymawan,
1988:1). Adapun istilah lain drama berasal dari kata
drame, sebuah kata yang berasal dari bahasa
Perancis yang diambil oleh Diderot dan
Beaumarchaid yaitu drama bermaksud untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang
kehidupan kelas menengah.
Metode Penelitian : Metode penelitian
yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuasi
eksperimen dengan desain non equivalent group pretes-postest desigened. Pada penelitian
ini ada dua kelompok subjek penelitian yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Untuk kelompok eksperimen pembelajaran drama dengan menggunakan model pembelajaran SAVI sedangkan kelompok kontrol pembelajaran
drama menggunakan pembelajaran konvensional. Kedua kelompok diberikan pretes
dan postes untuk mengukur kemampuan anak dalam menulis teks drama sedangkan
untuk mengukur kemampuan memahami drama digunakan tes performansi yang
dilaksanakan pada saat KBM dilaksanakan.
Hasil Penelitian dan Pembahasan : Hasil
penelitian untuk pencapaian kemampuan anak memahami drama ternyata aspek yang
lebih dominan dikuasai anak dan mendapat urutan kesatu adalah aspek memahami
latar dengan tingkat keberhasilan 14% mampu dan 32% mahir, urutan kedua aspek
memahami tema yang mendapat hasil 16% mampu dan 30% mahir, urutan ketiga
memahami amanat 18% mampu dan 28% mahir, urutan keempat menirukan tokoh
mendapat hasil 22% dan 26% mahir, urutan kelima mengekspresikan karakter
mendapat hasil 26% mampu dan 22% mahir sedangkan urutan terakhir menyusun alur
mendapat hasil 38% mampu dan 8% mahir. Berdasarkan uji t bahwa hasil tes
performansi di kelas eksperimen memperoleh rerata (mean) 14,44 sedangkan rerata
tes performansi 10,28 di kelas kontrol. Kesimpulannya kelas ekaperimen lebih
berhasil dalam peningkatan kemampuan memahami drama dibanding kelas kontrol.
Kesimpulan : Terdapat perbedaan
peningkatan kemampuan anak memahami drama dan menulis teks drama antara anak
yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran SAVI dengan siswa yang
menggunakan model pembelajaran konvensional. Anakdi kelas eksperimen yang pembelajarannya
menggunakan model pembelajaran SAVI mengalami peningkatan yang lebih tinggi
daripada anak di kelas kontrol yang pembelajaranya menggunakan model pembelajaran
konvensional. Sedangkan hasil observasi selama penerapan model pembelajaran SAVI
berlansung sangat baik. Hal tersebut dapat terlihat dari aktivitas siswa dan
guru dalam setiap pertemuan di kelas eksperimen sangat baik. Hasil wawancara dengan
guru model ternyata masih banyak guru-guru yang belum mengenal dan menerapkan
model pembelajaran SAVI sedangkan hasil wawancara peneliti dengan beberapa
siswa dalam menggunakan model pembelajaran ternyata sangat antusias dalam belajar
sehingga minat siswa dalam pembelajaran drama menjadi meningkat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar