Senin, 04 Mei 2015

analisis jurnal 1

PENINGKATAN KEMAMPUAN ANAK MEMAHAMI DRAMA DAN MENULIS TEKS DRAMA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN SOMATIS AUDITORI VISUAL INTELEKTUAL (SAVI)
Oleh : Teti Milawati
Pendahuluan :   Dalam masa perkembangannya, anak - anak memiliki banyak sisi diantaranya anak membutuhkan pembelajaran etika, tentang baik dan buruk bagi mereka. Guru dan orang tua dituntut untuk dapat menetapkan ukuran - ukuran yang memadai, dan menggali hal - hal khusus tentang budi pekerti, serta memperkayanya agar selalu lebih menarik dan menyenangkan bagi anak (Majid, 2002). Pembelajaran drama yang diberikan pada anak sekolah dasar hendaknya mampu memperkenalkan, membimbing, mengembangkan dan mengapresiasi drama, membuat mereka dapat menyenangi, menggemari dan menjadikan drama sebagai salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupan (Waluyo, 2002: 155). Guru hendaknya dapat memilih model pembelajaran yang sekiranya dapat membantu anak memahami drama dan mampu menulis teks drama walaupun secara sederhana sehingga dapat mempermudah anak dalam mempelajari dan mengapresiasi drama. Dengan menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada anak maka diharapkan anak - anak dapat memahami drama dan mampu menulis teks drama sehingga anak - anak dapat mengerti manusia lain lebih nyata dan memahami arti kehidupan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu dengan menulis teks drama anak-anak pun akan terbiasa mencurahkan isi batinnya sehingga mereka pada akhirnya akan memiliki kepekaan terhadap dirinya dan lingkungannya serta dapat menilai sesuatu yang baik dan buruk baik itu untuk dirinya maupun untuk orang lain. Rumusan masalah penelitian; berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: adakah perbedaan peningkatan kemampuan anak memahami drama dan menulis teks drama antara anak yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran SAVI dengan anak yang menggunakan pembelajaran secara konvensional?
Landasan Toeritis :
1. Pengertian drama
Kata drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, belaku, bertindak, atau bereaksi dan sebagainya (Harymawan, 1988:1). Adapun istilah lain drama berasal dari kata
drame, sebuah kata yang berasal dari bahasa Perancis yang diambil oleh  Diderot dan Beaumarchaid yaitu drama bermaksud untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah.

Metode Penelitian : Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuasi eksperimen dengan desain non equivalent group pretes-postest desigened. Pada penelitian ini ada dua kelompok subjek penelitian yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Untuk kelompok eksperimen pembelajaran drama dengan menggunakan model pembelajaran  SAVI sedangkan kelompok kontrol pembelajaran drama menggunakan pembelajaran konvensional. Kedua kelompok diberikan pretes dan postes untuk mengukur kemampuan anak dalam menulis teks drama sedangkan untuk mengukur kemampuan memahami drama digunakan tes performansi yang dilaksanakan pada saat KBM dilaksanakan.
Hasil Penelitian dan Pembahasan : Hasil penelitian untuk pencapaian kemampuan anak memahami drama ternyata aspek yang lebih dominan dikuasai anak dan mendapat urutan kesatu adalah aspek memahami latar dengan tingkat keberhasilan 14% mampu dan 32% mahir, urutan kedua aspek memahami tema yang mendapat hasil 16% mampu dan 30% mahir, urutan ketiga memahami amanat 18% mampu dan 28% mahir, urutan keempat menirukan tokoh mendapat hasil 22% dan 26% mahir, urutan kelima mengekspresikan karakter mendapat hasil 26% mampu dan 22% mahir sedangkan urutan terakhir menyusun alur mendapat hasil 38% mampu dan 8% mahir. Berdasarkan uji t bahwa hasil tes performansi di kelas eksperimen memperoleh rerata (mean) 14,44 sedangkan rerata tes performansi 10,28 di kelas kontrol. Kesimpulannya kelas ekaperimen lebih berhasil dalam peningkatan kemampuan memahami drama dibanding kelas kontrol.

Kesimpulan : Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan anak memahami drama dan menulis teks drama antara anak yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran SAVI dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Anakdi kelas eksperimen yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran SAVI mengalami peningkatan yang lebih tinggi daripada anak di kelas kontrol yang pembelajaranya menggunakan model pembelajaran konvensional. Sedangkan hasil observasi selama penerapan model pembelajaran SAVI berlansung sangat baik. Hal tersebut dapat terlihat dari aktivitas siswa dan guru dalam setiap pertemuan di kelas eksperimen sangat baik. Hasil wawancara dengan guru model ternyata masih banyak guru-guru yang belum mengenal dan menerapkan model pembelajaran SAVI sedangkan hasil wawancara peneliti dengan beberapa siswa dalam menggunakan model pembelajaran ternyata sangat antusias dalam belajar sehingga minat siswa dalam pembelajaran drama menjadi meningkat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar